Tugas-Tugasku..

Kamis, 15 Maret 2012

logika 2



Disusun oleh
Desy wulandari
Miar Trianigsih

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
2010


DEFINISI DAN BERBAGAI KESESATAN DALAM LOGIKA



A.   PENGERTIAN DEFINISI

Kata definisi berasal dari bhasa Latin Definitio . Kata dasar  Definitio adalah Finish`. GERTIAN DEFINISII KESESATAN DALAM LOGIKA  yang berarti batas . Definisi secara sederhana dengan demikian dapat diartikan sebagai batasan atau pembatas yang bertugas menentukan batas sebuah konsep                  ( pengertian ) secara tepat, jelas, dan singkat .
Definisi adalah pengetahuan yang kita butuhkan . dalam kehidupan ilmiah maupun kehidupan sehari – hari banyak berurusan dengan definisi . sebuah definisi yang baik sudah tentu harus mencerminkan rumusan yang jelas, singkat, dan lengkap : mencakup semua unsur mengenai semua soal yang hendak didefinisikan . Definisi pun bertugas membatasi suatu pengertian yang jelas, singkat, dan padat naka definisi itu mau tak mau harus mampu membedakan sebuah pengertian dari pengertian sebelumnya .
Dalam setiap definisi, ada dua hal yang harus kita perhatikan, yakni tentang apa yang hendak didefinisikan ( definiendum ) dan uraian yang menjelaskan apa yang didefinisikan itu yang biasa disebut definien . sebuah definiendum terdiri dari satu atau dua kata, sedangkan definiens terdiri dari beberapa kata yang membentuk sebuah kalimat .
Contoh : Segitiga adalah tiga buah garis lurus yang membentuk sebuah bidang datar dan tiga buah sudut . Segitiga disini adalah definiendum, dan tiga buah garis lurus yang membentuk sebuah bidang datar dan tiga buah sudut adalah definiensnya .
Definisinya pada dasarnya bertujuan menjelaskan pengertia secara jelas, tepat dan lengkap . Ada beberapa kata yang tidak dapat kita beri definisi . Pertama adalah kata yang tidak dapat kita temukan generanya, maksudnya tidak bias kita masukkan ke dalam kelompok nama umum apa . Kedua adalah kata yang tidak dapat ditemukan differentiannya . Kenyataan mental yang sederhana seperti : marah, benci, senang, kesal, senang dan sebagainya, tidak mungkin kita beri definisi, demikian pula penangkapan indera atas obyek yang sedehana seperti kuning, hijua, halus, kasar, wangi dan sebagainya .

Mendefinisi adalah menyebut sekelompok kerakteristik suatu kata sehingga kita dapat mengetahui pengertiannya serta dapat membedakan kata lain yang menujuk objek yang lain pula . karakteristik itu tidak lain adalah genera( jenis ) dan differentia ( sifat pembeda ) . Jadi mendefinisi suatu kata adalah menganalisis jenis dan sifat pembeda yang dikandungnya .
Term khusus dan nama unik juga term yang prkatis tidak bias diberi definisi, karena memiliki sifat kesendirian, yang tidak terbatas, sehingga tidak mudah ditemukan sifat pembedanya .

B.   TUJUAN MEMBUAT DEFINISI

Ada lima tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang dalam membuat definisi .
Pertama, tujuan untuk meningkatkan kosa kata . Untuk kepentingan ini maka definisi dirasa penting kegunaanna untuk menyelami arti pengertian kata – kata itu . Dari sini jelaslah bahwa membuat definisi untuk kata – kata tersebut memerlukan penguasaan kosa kata yang sempurna agar apa yang disefinisikan itu menjadi jelas, singkat, dan lengkap .
Kedua, definisi dimaksudkan untuk menghilangkan ambiguitas . Untuk memperjelas arti dari beberapa kata yang sama namun ternyata memiliki arti yang berbeda .
Ketiga,  definisi dimaksudnkan untuk memperjelas arti . Kita hendaknya jangan dikacaukan oleh perbedaan ketidakjelasan dan ambigiutas . Ketidakjelasan dan ambiguitas merupakan dua hal yang berbeda . Sebuah kata dianggap ambigu dalam sebuah konteks tertentu, bila ia memiliki dua arti yang berbeda dan konteks itu tidak dapat membedakan secara jelas arti mana yang dimaksud . Sebaliknya, sebuah kata dianggap tidak jelas bila di dalamnya terkandung garis pembatas yang menyulitkan penentuan apakah kata itu dapat digunakan atau tidak .
Keempat, definisi dimaksudkan untuk memberikan penjelasan secara teoritis . Definisi dapat membuat rumusan yang tepat secara teoritis atau secara ilmiah, untuk menetukan sifat – sifta obyek yang dipelajarinya .
Kelima,  definisi dimaksudkan untuk memengaruhi sikap orang lain . Dalam kehidupan sehari – hari definisi dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap orang lain, ini banyak kita jumpai dalam berbagai bentuk kegiatan .



C.   JENIS – JENIS DEFINISI

Secara garis besar definisi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni definisi nominal dan definisi real ( Ihromi, 1987 ) . Definisi nominal merupakan definisi yang dirumuskan menurut katanya, dan berusaha menjelaskan definiendum dengan cara menguraikan menurut katanya . Ia kurang akurat dibandingkan dengan definisi real yang biasanya digunakan secara ilmiah .Definisi nominal terdiri dari beberapa jenis . Ia bisa berjenis stipulatif, etimologis, lesikal, dan sinonim .

Definisi stipulatif . Definisi ini digunakan bila kita bermaksud memperkenalkan sebuah kata atau term baru yang sebelumnya tidak diketahui . Semua definisi stipulatif tidak selalu mencerminkan persamaan pengertian antara definiendum dan definiensnya . Oleh karena itu, tidak mungkin kita menyatakan bahwa definisi stipiulatif bersifat benar atau salah .
Contoh : kata atau term “ sarjana ”  dalam masyarakat Jawa kuno diartikan seseorang yang memiliki keahlian yang luar biasa . Padahal kata itu tidak demikian halnya . Sarjana sekaranga diartikan sebagai seseorang yang telah menyelesaikan salah satu jenjang pendidikan di perguiruan tinggi, tanpa mempersoalkan lagi apakah benar orang itu memiliki keahlian yang luar biasa atau tidak . Ia dengan kata lain tetap seorang sarjana .

      Definisi etimologis . Ialah definisi yang berusaha menjelaskan definiendum dengan cara menelusuri asal usul katanya . Pengertian “ lokomotif ” misalnya bisa didefinisikan dari kata “ movere ” yang berarti yang menggerakkan atau didefinisikan sebagai suatu benda yang dapat bergerak dari suatu tempat ke tempat lain .

      Definisi lesikal . Yaitu definisi yang beruaha menjelaskan definiendum dengan cara mengacu pada kamus tertentu . Jadi, definisi lesikal ini tidak dimaksudkan untuk mendefinisikan sebuah kata atau term baru yang belum dikenal melainkan sekedar untuk melaporkan  arti dari kata atau term baru tersebut sebagaimana telah dijelaskan dalam kamus . Definisi lesikal ini belum cukup untuk memberikan penjelasan yang bersifat ilmiah .

      Definisi yang bersifat sinonim . Dalam definisi yang menggunakan sinonim ini, definiendum berusaha dijelaskan dengan menggunakan sinonim atau paduan kata yang sesuai . Mengingat keterbatasan kosa kata seseorang, maka perlu kiranya dalam sebuah  uraian kita memberikan sinonim bagi kata – kata yang tampaknya kurang dikenal secara umum .
Contoh : bila kita menggunakan kata “ prediksi ” sebagai salah satu kata yang tidak lazim digunakan dalam bahasa Indonesia, sebaiknya kita cantumkan sinonimnya, yaitu “ ramalan ” atau “ perkiraan ” .
      Setelah kita ketahui berbagai definisi nominal di atas, dapat disimpulkan bahwa definisi nominal memang cukup banyak membantu tetapi bantuan tersebut masih bersifat sementara, dan tidak bersifat ilmiah . Oleh karena itu, masih perlu untuk menyusun definisi lain yang bias mengungkakan unsur hakiki tersebut, yakni definisi real .
      Definisi real dianggap mampu mengeungkapkan hal atau benda yang didefinisikan sevara nyata . Dalam definisi real disajikan unsur – unsur atau ciri – ciri realitas yang didefinisikan secara hakiki . Dalam membuat definisi real selalu melalui dua langkah . Pertama, menyatakan ciri atau unsur yang merupakan realitas tertentu dengan realitas lainnya dalam jenis terdekat . Kedua, menyatakan unsur atau ciri yang membedakan realitas tertentu dengan realitas lainnya . Dalam definisi real terdapat beberapa definisi, yaitu definisi hakiki, definisi diskriptif, definisi yang menunjukkan  ( tujuan ) dan definisi yang menjelaskan sebab musabab ( Ihromi, 1987 ) .
      Definisi Hakiki dan Definisi Esensial . Bermaksud menunjukkan esensi realitas yang didefinisikannya . Esensi sebuah realitas merupakan pengertian yang abstrak sifatnya, yang didalamnya terkandung unsur – unsur pokok yang sangat diperlukan untuk memahami golongan atau spesies yang lainnya . Definisi hakiki ini tersusun dari jenis yang terdekat ( genus proximum ) dan perbedaan sepesifik ( diferentia specipice ) . Yang dimaksud dengan genus adalah setiap pengertian yang menyatakan hanya sebagian dari keseluruhan hakikat realitas . Artinya, pengertian tersebut belum menyatakan hakikat realitas secara utuh .
Contoh : “ binatang ” bertulang belakang merupakan sebagian hakikat kera . Adapun yang dimaksud dengan spesies ( golongan ) adalah setiap pengertian yang dapat dikenakan kepada bawahan genus, sedangkan perbedaan spesifik adalah sebuah pengertian yang berfungsi membedakan golongan ( spesies ) dari jenis ( genus ) . Definisi hakiki atau definsi esensial itu menjelaskan definiendum secara jelas .
      Definisi deskriptif . Definisi ini berusaha menggambarkan sifat – sifat yang melekat pada realitas yang didefinisikan . Misalnya, “ bunga bangkai ” didefinisikan sebagi bunga yang mengeluarkan bau yang kurang sedap, berukuran garis tengah antara sekian sentimeter sampai sekian sentimeter, tumbuh di hutan yang berketinggian sekian meter dari pemukaan laut .
      Definisi maksud ( tujuan ) . Definisi ini di buat dengan sasaran agar dapat dipakai untuk menjelaskan mengapa sebuah benda atau realitas diciptakan . Misalnya:             “ computer ” didefinisikan sebagai alat yang dipakai untuk menympan, menglah, dan memproses data . Jadi, benda yang bernama computer merupakan benda yang diciptakan dengan maksud dan tujuan tertentu .

      Definisi Sebab Musabab . Definisi ini sebenarnya sama dengan definisi maksud atau tujuan . Dalam definisi sebab musaba ( terjadi sebuah realitas ) ditentukan apa atau faktor – faktor  apa yang menjadi penyebab penunjang, serta mengapa realitas tersebut terjadi .
Contoh : seorang ahli ekonomi ingin menjelaskan secara sedehana kepada masyarakat yang berpendidikan rendah tentang apa yang dimaksud dengan “ inflasi ”. Sudah tentu ia tidak mungkin memberikan definisi inflasi berdasarkan ilmu ekonomi yang canggih . Oleh karena itu, ia mendefinisikan inflasi dengan terlebih dahulu menelusuri faktor – faktor utama yang menyebabkan terjadinya inflasi itu disertai dengan faktor – faktor penunjang belangsungnya inflasi tersebut .

D.   TEKNIK MEMBUAT DEFINISI

Secara umum ada dua teknik mendefinisikan sebuah term, istilah atau konsep . Teknik pertama, teknik yang menekankan pada denptasi atau keluasan term yang didefinisikan, dan yang kedua yaitu teknik yang menekankan pada konotasi atau ke dalaman yang didefinisikan
Teknik mendefinisikan secara denotative dapat dengan mudah dilakukan dengan cara memberi contoh pada objek yang didefinisikan .
Teknik mendefinisikan dengan cara memberi contoh disebut  pula definisi demonstratif .
Teknik mendefinisikan dengan cara konottif yang juga disebut definisi analitik atau definisi pergenus et diferensie, dianggap sebagai definisi yang paling penting dibandingkan dengan teknik definisi yang bersifat konotatif .
      Pada dasarnya definisi konotatif di atas berusaha mendefinisikan sebuah objek dengan cara menentukan genusnya terlebih dahulu, kemudian mencari perbedaan yang terdapat di antara spesies yang menjadi anggota genus itu .
Contoh klasik dikemukakan Aristoteles yang mengklasifikasikan manusia berada di bawah genus binatang, lalu ia berusaha menentukan apa dan di mana letak perbedaan antara manusia dengan binatang lainnya .
      Definisi konotatif itu hanya mungkin dipakai untuk mendefinisikan objek yang menujukkan ciri – ciri yang kompleks . Selain itu, definsi konotatif sulit pula digunakan untuk mendefinisikan term yang enggambarkan siat universal . Misalnya : ada, intensitas, keberadaan, dan sebagainya .


E.   PATOKAN MEMBUAT DEFINISI

Agar membuat definisi terhindar dari kekeliruan perlu kita perhatikan petokan berikut :
a.      Definisi tidak boleh lebih luas atau lebih sempit dari konotasi kaya yang didefinisikan .
Definisi yang terlalu luas misalnya :
·         Merpati adalah burung yang dapat terbang cepat .
( Banyak burung yang dapat terbang cepat bukan merpati ) .
          Definisi yang terlalu sempit misalnya :
·         Kursi adalah tempat duduk yang dibuat dari kayu bersandara, dan berkaki .
( Banyak juga kursi yang dibuat dari kayu ) .



b.      Definisi tidak boleh menggunakan kata yang didefinisikan .
Definisi yang melanggar patokan ini disebut definisi sirkuler, berputar atau tautologi, atau tahsilulhasil seperti :
·         Wajib adalah perbuatan yang harus dikerjakan oleh setiap orang .
·         Bila kita mendefinisikan “Ilmu Biologi” adalah Ilmu yang mempelajari tentang Biologi, maka definisinya tidak akan bermanfaat untuk orang yang sama sekali tidak mengetahui apa itu biologi.

c.       Definisi tidak boleh memakai penjelasan yang justru membingungkan .
Definisi ini disebut definisi obscurum per obscurius artinya menjelaskan sesuatu dengan keterangan yang justru lebih tidak jelas .
Definisi ini menggunakan bahasa plastik seperti :
·         Sejarah adal samudera pengalaman yang selalu bergelombang tiada putus – putusnya .
d.      Definisi tidak boleh menggunakan bentuk negatif :
·         Benar adalah sesuatu yang tidak salah .
Hanya keadaan yang tidak mungkin dihindari bentuk negatif diperbolehkan, seperti :
·         Orang buta adalah orang yang indera penglihatannya tidak berfungsi .
e.         Definisi harus dapat dibolak-balikan dengan definiendumnya
Luas definiendum harus sama dengan luas definiensnya.
·         Persegi adalah bidang datar, yang dibatasi oleh empat garis lurus yang sama panjang.
Dapat dibalik menjadi,
·         Bidang dater yang dibatasi oleh empat garis lurus yang sama panjang adalah persegi.

Top of Form

F.      KESESATAN DALAM LOGIKA
          Kesesatan seringkali dijumpai dalam penalaran. Dalam logika tradisional dapat dibedakan menjadi dua yaitu kesesatan formal dan kesesatan informal.
a.    Kesesatan Formal
·         Kesesatan karena four term (empat artian).
Dalam suatu penalaran pokok sebutan (categorical silogisme) hanya boleh dipakai tiga artian, yaitu pokok, sebutan, dan artian tengah yang menjebatani pokok dan sebutan yang kemudian menjadi kesimpulan.
Contoh:    Semua buku mempunyai halaman
                  Rumah Andi mempunyai halaman
·         Jadi, Rumah Andi adalah sebuah buku
·         Kesesatan karena undristibuted middle terms (term tengah yang tidak berdistribusi).
Bentuk sesat pikir yang terjadi dalam susunan pikir berupa artian tengah yang tak tertunjuk semua dalam pangkal pikir sehingga artian tengah itu sesungguhnya tidak dapat menghubungkan pokok dengan sebutan yang dinyatakan dalam kesimpulannya.
Contoh:    Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa
                  Rendi adalah penyanyi
·         Jadi, Rendi adalah pahlawan tanpa tanda jasa
                 
·          Kesesatan karena premis-premis yang mengiyakan dan kesimpulan yang mengingkari.

Terjadi karena melanggar pembentukan silogisme yang menyatakan dari pangkal pikir-pangkal pikir yang mengiyakan hanyalah dapat diturunkan suatu kesimpulan yang mengiyakan pula.
Contoh:    Semua filsuf adalah orang pintar
                  Semua ahli kimia adalah filsuf
·         Jadi, semua ahli kimia adalah orang pintar
·         Kesesatan karena premis negative dan kesimpulan yang mengiyakan.
Sesat pikir yang melanggar ketentuan yang menyatakan bahwa jika salah satu premis bersifat negative maka kesimpuannya harus negative.
Contoh:    Semua filsuf adalah ahli logika
                  Semua ahli kimia adalah bukan filsuf
·         Jadi , Semua ahli kimia adalah ahli logika

·         Kesesatan karena dua premis yang mengingkari.

Sesat pikir yang melanggar dua premis yang mengingkari tidak dapat ditarik kesimpulannya yang sah.
b.    Kesesatan Informal
·         Kesesatan karena aksen atau tekanan.
Contoh:    Hari senin ade mengikuti apel
                  Apel itu buah
o   Jadi, Hari senin ade mengikuti buah
·         Kesesatan yang disebabkan term ekuivok.
Contoh:    Baik adalah sifat terpuji
                  Nani adalah anak yang nakal
o   Jadi, Nani adalah sifat terpuji
·         Kesesatan yang disebabkan oleh arti kiasan .
Apabila dalam sebuah penalaran arti kiasan disamakan dengan arti yang sebenarnya, maka akan timbul kesesatan.
Contoh:    Semua bangsawan berdarah biru
                  Pangeran Inggris bukan berdarah biru (merah)
o   Jadi, Pangeran Inggris bukanlah bangsawan.
·         Kesesatan yang diakibatkan ampiboli.
Contoh:    kesesatan yang dilakukan tukang ramal yang pernyataannya bersifat umum dan bercabang-cabang supaya tidak dianggap meleset ramalannya.

c.    Kesesatan karena Relevansil
·         Kesesatan argumentum ad hominem.
Apabila kita berusaha agar orang menerima atau menolak suatu usul, tidak berdasarkan penalaran, tetapi karena alasan yang berhubungan dengan kepentingan orang tersebut.
·         Kesesatan argument ad verucundiam atau argumentum autoritatis.
Kesesatan yang disebabkan orang menerima atau menolak berdasarkan orang yangn mengungkapkan dianggap berwibawa.
·         Kesesatan argumentum ad baculum
Kesesatan yang timbul karena penerimaan atau penolakan penalaran didasarkan adanya ancaman.
·         Kesesatan karena ignoratio elenchi
Karena konklusi yang diturunkan dari premis Nampak jelas tidak relevan dengan premis itu.
·         Kesesatan yang disebabkan oleh pertanyaan yang kompleks
Kesesatan yang bersumber pada pernyataan yang bukan merupakan pernyataan yang tunggal.
·         Kesesatan karena argumentum ad ignoratiam
Disebabkan adanya kebenaran penyimpulan suatu konklusi bahwa negasinya tidak terbukti salah.
·         Kesesatan tu squitur
Disebabkan tidak adanya hubungan yang logis dalam suatu penalaran.
·         Kesesatan tu quoque
Kesesatan yang muncul bila seseorang yang mendapat kecaman dari pihak lawan, membela diri dengan mengecam kembali pihak lawan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar