Tugas-Tugasku..

Kamis, 15 Maret 2012

Logika 1

1)      Apa hubungan filsafat dengan logika?
.logika merupakan cabang filsafat yang membahas lurus tidaknya penalaran manusia
. Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
2)      Apa itu logika dan manfaat logika???
.Logika adalah : Ilmu atau kecakapan dalam menalar atau berfikir atau merumuskan aturan-aturan secara tepat. logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur[1].
.Manfaat logika:
1.      Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
2.      Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
3.      Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
4.      Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
5.      Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpkir, kekeliruan serta kesesatan.
6.      Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
7.      Terhindar dari klenik , gugon-tuhon ( bahasa Jawa )
8.      Apabila sudah mampu berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.

3)      Hubungan logika dengan bahasa?
. Bahasa sangat penting juga dalam pembentukan penalaran ilmiah karena penalaran ilmiah mempelajari bagaimana caranya mengadakan uraian yang tepat dan sesuai dengan pembuktian-pembuktian secara benar dan jelas.
. Hubungan Bahasa dan Logika
Dapat dijelaskan bahwa hasil yang diperoleh dari mempergunakan suatu teknik (logika), akan tergantung dari baik-buruknya alat bahasa yang digunakan.
Penggunaan bahasa sebagai alat logika harus memperhatikan perbedaan antara bahasa sebagai alat logika dan bahasa sebagai alat kesusasteraan. Kita ambil contoh dari pernyataan “Lukisan itu tidak jelek”, maka yang saya maksud lukisan itu belum dapat dikatakan indah, atau saya bermaksud lukisan itu belum dapat dikatakan indah, namun saya tidak berani untuk mengatakan bahwa lukisan itu jelek. Logika hanya dapat memperhitungkan penilaian-penilaian yang isinya dirumuskan secara seksama, tanpa suatu nilai perasaan.
Penggunaan bahasa sebagai alat dari logika masih memiliki kekurangan. Contohnya puisi yang diubah ke dalam bentuk prosa. Puisi tadi akan kehilangan nilai puisi-nya, pikiran yang tadi muncul didalam puisi dengan indahnya tidak lagi menghantarkan maknanya kepada si pembaca. Hakekat kesusastraan berada di atas hubungan dan batas-batas logika, bahkan keindahana dalam puisi bertentangan syarat-syarat logika.
Begitu pula terjadi didalam peribahasa, perumpamaan-perumpamaan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari mungkin dapat dimengerti seperti “bintang lapangan”, “kupu-kupu malam”. Syarat-syarat logika dalam pembentukan peribahasa diabaikan didalam susunan kata –katanya dan isinya.
Bahasa sebagai alat logika memiliki kekurangan–kekurangan, karena sebagaian besar bahasa berkembang dan dipengaruhi oleh proses berpikir secara pre-logis (tidak logis) seperti simbolisme didalam mitologi.
Jadi,bahasa memiliki dua fungsi yang dilihat dari segi perkembangannya. Bahasa lebih mudah digunakan pada kesusastraan daripada sebagai alat pemikiran ilmiah umumnya khususnya pada logika.

13)          jelaskan secara ringkas sejarah logika dan kesimpulan yang dapat diambil?
Logika pertama-tama disusun oleh Aristoteles (384-322 SM), sebagai sebuah ilmu tentang hukum-hukum berpikir guna memelihara jalan pikiran dari setiap kekeliruan. Logika sebagai ilmu baru pada waktu itu, disebut dengan nama “analitika” dan “dialektika”. Kumpulan karya tulis Aristoteles mengenai logika diberi nama Organon, terdiri atas enam bagian.
Theoprastus (371-287 sM), memberi sumbangan terbesar dalam logika ialah penafsirannya tentang pengertian yang mungkin dan juga tentang sebuah sifat asasi dari setiap kesimpulan. Kemudian, Porphyrius (233-306 M), seorang ahli pikir di Iskandariah menambahkan satu bagian baru dalam pelajaran logika. Bagian baru ini disebut Eisagoge, yakni sebagai pengantar Categorie. Dalam bagian baru ini dibahas lingkungan-lingkungan zat dan lingkungan-lingkungan sifat di dalam alam, yang biasa disebut dengan klasifikasi. Dengan demikian, logika menjadi tujuh bagian.
Tokoh logika pada zaman Islam adalah Al-Farabi (873-950 M) yang terkenal mahir dalam bahasa Grik Tua, menyalin seluruh karya tulis Aristoteles dalam berbagai bidang ilmu dan karya tulis ahli-ahli pikir Grik lainnya. Al-Farabi menyalin dan memberi komentar atas tujuh bagian logika dan menambahkan satu bagian baru sehingga menjadi delapan bagian.
Karya Aristoteles tentang logika dalam buku Organon dikenal di dunia Barat selengkapnya ialah sesudah berlangsung penyalinan-penyalinan yang sangat luas dari sekian banyak ahli pikir Islam ke dalam bahasa Latin. Penyalinan-penyalinan yang luas itu membukakan masa dunia Barat kembali akan alam pikiran Grik Tua.
Petrus Hispanus (meninggal 1277 M) menyusun pelajaran logika berbentuk sajak, seperti All-Akhdari dalam dunia Islam, dan bukunya itu menjadi buku dasar bagi pelajaran logika sampai abad ke-17. Petrus Hispanus inilah yang mula-mula mempergunakan berbagai nama untuk sistem penyimpulan yang sah dalam perkaitan bentuk silogisme kategorik dalam sebuah sajak. Dan kumpulan sajak Petrus Hispanus mengenai logika ini bernama Summulae.
Francis Bacon (1561-1626 M) melancarkan serangan sengketa terhadap logika dan menganjurkan penggunaan sistem induksi secara lebih luas. Serangan Bacon terhadap logika ini memperoleh sambutan hangat dari berbagai kalangan di Barat, kemudian perhatian lebih ditujukan kepada penggunaan sistem induksi.
Pembaruan logika di Barat berikutnya disusul oleh lain-lain penulis di antaranya adalah Gottfried Wilhem von Leibniz. Ia menganjurkan penggantian pernyataan-pernyataan dengan simbol-simbol agar lebih umum sifatnya dan lebih mudah melakukan analisis. Demikian juga Leonard Euler, seorang ahli matematika dan logika Swiss melakukan pembahasan tentang term-term dengan menggunakan lingkaran-lingkaran untuk melukiskan hubungan antarterm yang terkenal dengan sebutan circle-Euler.
John Stuart Mill pada tahun 1843 mempertemukan sistem induksi dengan sistem deduksi. Setiap pangkal-pikir besar di dalam deduksi memerlukan induksi dan sebaliknya induksi memerlukan deduksi bagi penyusunan pikiran mengenai hasil-hasil eksperimen dan penyelidikan. Jadi, kedua-duanya bukan merupakan bagian-bagian yang saling terpisah, tetapi sebetulnya saling membantu. Mill sendiri merumuskan metode-metode bagi sistem induksi, terkenal dengan sebutan Four Methods.
Logika Formal sesudah masa Mill lahirlah sekian banyak buku-buku baru dan ulasan-ulasan baru tentang logika. Dan sejak pertengahan abad ke-19 mulai lahir satu cabang baru yang disebut dengan Logika-Simbolik. Pelopor logika simbolik pada dasarnya sudah dimulai oleh Leibniz.
Logika simbolik pertama dikembangkan oleh George Boole dan Augustus de Morgan. Boole secara sistematik dengan memakai simbol-simbol yang cukup luas dan metode analisis menurut matematika, dan Augustus De Morgan (1806-1871) merupakan seorang ahli matematika Inggris memberikan sumbangan besar kepada logika simbolik dengan pemikirannya tentang relasi dan negasi.
Tokoh logika simbolik yang lain ialah John Venn (1834-1923), ia berusaha menyempurnakan analisis logik dari Boole dengan merancang diagram lingkaran-lingkaran yang kini terkenal sebagai diagram Venn (Venn’s diagram) untuk menggambarkan hubungan-hubungan dan memeriksa sahnya penyimpulan dari silogisme. Untuk melukiskan hubungan merangkum atau menyisihkan di antara subjek dan predikat yang masing-masing dianggap sebagai himpunan.
Perkembangan logika simbolik mencapai puncaknya pada awal abad ke-20 dengan terbitnya 3 jilid karya tulis dua filsuf besar dari Inggris Alfred North Whitehead dan Bertrand Arthur William Russell berjudul Principia Mathematica (1910-1913) dengan jumlah 1992 halaman. Karya tulis Russell-Whitehead Principia Mathematica memberikan dorongan yang besar bagi pertumbuhan logika simbolik.

        . Sejarah Logika

[sunting] Masa Yunani Kuno
Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta.
Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan logika induktif.
Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.
Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles disimpulkan dari:
  • Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)
  • Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
  • Air jugalah uap
  • Air jugalah es
Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta.
Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan. Kaum Sofis beserta Plato (427 SM-347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam bidang ini.
Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica , yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.
Buku Aristoteles to Oraganon (alat) berjumlah enam, yaitu:
  1. Categoriae menguraikan pengertian-pengertian
  2. De interpretatione tentang keputusan-keputusan
  3. Analytica Posteriora tentang pembuktian.
  4. Analytica Priora tentang Silogisme.
  5. Topica tentang argumentasi dan metode berdebat.
  6. De sohisticis elenchis tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.
Pada 370 SM - 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum, melanjutkan pengembangn logika.
Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari Citium 334 SM - 226 SM pelopor Kaum Stoa. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus (130 M - 201 M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang dokter medis yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.
Porohyus (232 - 305) membuat suatu pengantar (eisagoge) pada Categoriae, salah satu buku Aristoteles.
Boethius (480-524) menerjemahkan Eisagoge Porphyrius ke dalam bahasa Latin dan menambahkan komentar- komentarnya.
Johanes Damascenus (674 - 749) menerbitkan Fons Scienteae.
[sunting] Abad pertengahan dan logika modern [2]
Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles seperti De Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan karya Boethius masih digunakan.
Thomas Aquinas 1224-1274 dan kawan-kawannya berusaha mengadakan sistematisasi logika.
Lahirlah logika modern dengan tokoh-tokoh seperti:
  • Petrus Hispanus (1210 - 1278)
  • Roger Bacon (1214-1292)
  • Raymundus Lullus (1232 -1315) yang menemukan metode logika baru yang dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam aljabar pengertian.
  • William Ocham (1295 - 1349)
Pengembangan dan penggunaan logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh Thomas Hobbes (1588 - 1679) dengan karyanya Leviatan dan John Locke (1632-1704) dalam An Essay Concerning Human Understanding
Francis Bacon (1561 - 1626) mengembangkan logika induktif yang diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum Scientiarum.
J.S. Mills (1806 - 1873) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam bukunya System of Logic
Lalu logika diperkaya dengan hadirnya pelopor-pelopor logika simbolik seperti:
  • Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) menyusun logika aljabar berdasarkan Ars Magna dari Raymundus Lullus. Logika ini bertujuan menyederhanakan pekerjaan akal budi dan lebih mempertajam kepastian.
  • George Boole (1815-1864)
  • John Venn (1834-1923)
  • Gottlob Frege (1848 - 1925)
Lalu Chares Sanders Peirce (1839-1914), seorang filsuf Amerika Serikat yang pernah mengajar di John Hopkins University,melengkapi logika simbolik dengan karya-karya tulisnya. Ia memperkenalkan dalil Peirce (Peirce's Law) yang menafsirkan logika selaku teori umum mengenai tanda (general theory of signs)
Puncak kejayaan logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970).
Logika simbolik lalu diteruskan oleh Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Rudolf Carnap (1891-1970), Kurt Godel (1906-1978), dan lain-lain.

Cahaya Konsep Dasar Fisika

           
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan ridho-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Cahaya : Sifat-sifat, Alat Optik, dan Penglihatan“.
Makalah ini disusun untuk menyelesaikan tugas yang telah diberikan oleh dosen Konsep Dasar Fisika kami. Seluruh proses penyusunan makalah ini tidak terlepas dari pengarahan, bimbingan, dan kepercayaan yang diberikan kepada kami. Oleh karena itu, izinkan kami mengucapkan terimakasih kepada:
1.      Bapak Drs. A.R. Supriatna selaku dosen mata kuliah Konsep Dasar Fisika kami.
2.      Orang tua dan seluruh keluarga yang senantiasa memberikan dukungan.
3.      Seluruh mahasiswa PGSD angkatan 2010.
Kami menyadari bahwa dalam menulis makalah ini masih ada kekurangan-kekurangan, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.
Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat dalam kegiatan belajar mengajar.



Jakarta, 29 Oktober 2010
                                                                                                              
                                                                                                                                                        
                                                                                                                                      Tim penulis





DAFTAR ISI

Halaman Judul                                                                                              i
Kata Pengantar                                                                                             ii
Daftar Isi                                                                                                   iii

BAB I          Pendahuluan                                                                               1
          1.1      Latar Belakang                                                                          1
          1.2     Rumusan Masalah                                                                       1
          1.3     Tujuan                                                                                      1

BAB II        Pembahasan                                                                              2
          2.1     Cahaya                                                                                      2
          2.2     Sifat-sifat cahaya                                                                    2
                   2.2.1   Cahaya Merambat Lurus                                                   2
                   2.2.2  Cahaya Menembus Benda Bening                                       3
                   2.2.3  Cahaya Dapat Mengalami                                                  3
Pembelokan atau Pembiasan
          2.3     Sifat-sifat Cahaya Apabila Mengenai                                         3
                   Cermin Datar dan Cermin Lengkung
                   (Cekung dan Cembung)
         
2.4     Alat Optik                                                                                4
                   2.4.1   Mata                                                                               4
                   2.4.2  Kaca Pembesar                                                                4
          2.5     Percobaan Sederhana                                                                5
BAB III      Penutup                                                                                    6
          3.1     Kesimpulan                                                                                6
          3.2     Saran                                                                                       6
















Bab I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Hampir setiap hari tentunya kita berkaca di depan cermin. Setiap benda yang ada di sekeliling kita dapat kita lihat karena adanya cahaya. Cahaya yang masuk akan mengenai benda dan memantulkannya ke mata kita, sehingga kita dapat melihat benda dan bercermin.
Cahaya yang masuk  ke rumah merambat lurus. Merambat lurus adalah salah satu sifat cahaya. Apakah sifat-sifat cahaya yang lain?  Makalah ini dibuat dalam rangka menyelesaikan tugas dan memberikan pengetahuan yang bermakna bagi kami selaku mahasiswa tentang cahaya, sifat-sifat cahaya, alat optic dan penglihatan.
1.2    Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang dapat kami uraikan selama membuat makalah ini adalah sebagai berikut:
1.     Apakah  yang dimaksud cahaya?
2.    Apakah  sifat-sifat cahaya?

1.3   Tujuan
Dosen Mata Kuliah Konsep Dasar Fisika  mengadakan tugas ini agar mahasiswa dapat :
1.   Mengetahui apa itu cahaya
2.    Mengetahui sifat-sifat cahaya

BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Cahaya       
Dapatkah kita melihat benda-benda yang ada di sekeliling kita dalam keadaan gelap? Mengapa kita hanya dapat melihat  benda-benda ketika ada cahaya yang mengenai benda tersebut?
Cahaya adalah energy yang berbentuk gelombang elektromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang 380-750 nm.
2.2   Sifat-sifat Cahaya
Benda-benda yang ada disekitar kita dapat kita lihat apabila ada cahaya yang mengenai benda tersebut. Cahaya yang mengenai benda akan dipantulkan oleh benda ke mata sehingga benda tersebut dapat terlihat. Cahaya berasal dari sumber cahaya. Semua benda yang dapat memancarkan cahaya disebut sumber cahaya. Contoh sumber cahaya adalah matahari, lampu, senter, dan bintang.
          2.2.1   Cahaya Merambat Lurus
Kita tentu pernah melihat cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela. Cahaya yang masuk melalui celah-celah jendela itu merambat lurus.

          2.2.2  Cahaya Menembus Benda Bening
Cahaya dapat masuk kedalam rumah selain melalui celah-celah juga melalui kaca jendela. Kaca yang bening dapat ditembus oleh cahaya matahari. Apabila kamu menutup kaca jendela dengan karton atau triplek, maka cahaya tidak dapat masuk. Ini menunjukkan bahwa cahaya hanya dapat menembus benda yang bening.
          2.2.3  Cahaya Dapat Mengalami Pembelokan atau Pembiasan
Pembiasan cahaya adalah pembelokan cahaya ketika berkas cahaya melewati bidang batas dua medium yang berbeda indeks biasnya. Atau apabila cahaya merambat melalui dua medium yang berbeda kerapatannya, maka cahaya akan mengalami pembelokan atau pembiasan.
Pembiasan cahaya menyebabkan kedalaman semu dan pemantulan sempurna.
2.3   Sifat-sifat Cahaya Apabila Mengenai Cermin Datar dan Cermin Lengkung (Cekung dan Cembung)
                   Sifat-sifat cahaya yang dihasilkan oleh cermin tentunya berbeda-beda sesuai dengan bentuk permukaan cermin tersebut. Berdasarkan permukaannya, cermin dikelompokan menjadi tiga yaitu cermin datar, cermin cekung, dan cermin cembung. Cermin datar adalah cermin yang permukaan pantulnya datar. Contohnya cermin yang ada di meja rias. Cermin cekung adalah cermin yang permikaan pantulnya berupa cekungan. Cekungan ini seperti bagian dalam dari bola. Contohnya bagian dalam lampu senter dan lampu mobil. Cermin cembung adalah cermin yang permukaan pantulnya berupa cembungan. Cembungan ini seperti bagian luar dari bola. Contohnya spion pada mobil dan motor.

2.4   Alat Optik
          2.4.1   Mata
                             Mata manusia merupakan alat optic tercanggih ciptaan Allah SWT yang sangat mengagumkan karena telah dirancang untuk mampu melihat dekat dan jauh secara otomatis. Mekanis / cara kerja mata : Ketika cahaya masuk ke mata, bagian pertama yang berinteraksi dengan cahaya dating adalah kornea yang berfungsi mengumpulkan cahaya masuk ke lensa. Di belakang kornea terdapat iris yang mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata. Dari arah depan, iris menentukkan warna. Pupil akan mengecil agar cahaya yang masuk ke mata tidak banyak, dan akan membesar ketika dalam keadaan gelap. Pada saat mata melihat benda yang jatuh lensa mata pipih, dan ketika mata melihat benda yang dekat, lensa mata tebal. Retina merupakan tempat jatuhnya cahaya.
          2.4.2  Kaca Pembesar
                             Kaca pembesar merupakan lensa positif. Agar bayangan benda lebih besar dari ukuran benda dan dapat dilihat mata, hendaknya benda harus diletakkan diantara focus dan lensa.


2.5   Percobaan Sederhana
       
Konsep-konsep Yang Dibahas
Alat dan Bahan Sederhana Yang Digunakan
Cara Penggunaan Alat dan Bahan


Sifat-sifat Cahaya

* Senter dihidupkan, 1.Letakkan

A. Cahaya Menembus
Kaca Bening, Senter, Karton
    Kaca bening di depan (cahaya

Benda Bening
    tambus) 2.Letakkan karton



    di depan (cahaya tidak tembus)

B. Cahaya Dapat Dibelokkan
Gelas Bening, Air, Pensil
* Isi galas dengan air, masukkan

atau Dibiaskan
pensil (pensil akan tampak


bengkok)

Alat Optik
Kaca Pembesar, kertas
* Letakkan Kaca pembesar fokus

A. Kaca Pembesar
ke atas kertas (Lama-lama akan

terbakar)





BAB III
PENUTUP

3.1      Kesimpulan
Cahaya adalah energy yang berbentuk gelombang elektromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang 380-750 nm.

3.2   Saran
                   Harus diadakan pembelajaran lebih lanjut mengenai cahaya, sifat-sifat cahaya, alat optic dan penglihatan.